Alat Musik FU

Alat Musik FU – Maluku Utara tentunya memiliki berbagai macam alat musik yang unik, salah satunya yang akan kita bahas yaitu FU, apakah sebelumnya kalian sudah mengetahui apa itu alat musik FU? Jika belum, pada pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai alat musik FU beserta pengertian, sejarah, dan fungsinya, berikut penjelasannya.

 

Pengertian Alat Musik FU

alat musik fu

Alat musik FU merupakan alat musik yang terbuat dari kulit kerang, dulunya alat musik ini digunakan untuk seseorang yang tersesat di hutan yang kemudian meniupkan FU untuk meminta bantuan. Alat musik FU terbuat dari kulit kerang, cara memainkannya adalah dengan ditiup pada bagian yang berlubang atau terbuka, dan mengendalikan lewat telapak tangan yang menjadi pengatur suara.

Alat musik FU berasal dari Maluku Utara. Selain digunakan untuk memanggil penduduk, FU juga digunakan untuk mengiringi tarian-tarian, khususnya masyarakat Suku Asmat, Kabupaten Merauke. FU biasanya dimainkan dan menjadi paduan harmonisasi yang memberikan warna tersendiri pada ciri khas musik Papua

 

Sejarah Alat Musik FU

Tahun 1958

Pada waktu itu, bapak Latumahina membaca buku sejarah, kemudian ia melihat orang yang tengah meniup kulit bia, lalu ia mendatangi desa hutumuri, pada waktu itu rajanya adalah Raja Wellem Tehupiong, yang juga masih negeri lama hutumuri. Saat itu bapak Latumahina pergi ke gunung maut, ia menggunakan baju dinas sehingga ia tidak dapat naik. Akhirnya ia mengganti pakaian dengan kain adat supaya dapat naik ke gunung tersebut.

Tahun 1960-1963

Pada tahun itu group “Pela Nyong” pergi ke Jakarta untuk pembukaan PON bersama dengan bapak Latumahina untuk meniup tahuri disana. Pada tahun 1964 saat pulang dari Jakarta mereka menyerahkan semua kulit bia ke Amahusu.

Tahun 1962

Berawal pada tahun 1962, Lotkol G. Latumahina tidak hanya seorang militer, ia juga merupakan seorang pamong praja yang baik, namun juga seorang budayawan di Maluku. Ia juga merupakan seorang yang banyak berminat terhadap sejarah daerah ini sebagai seorang putra daerah, dari berbagai bacaan yang ditulis dalam bahasa Belanda tentang daerah ini, ia menemukan sebuah cerita bersejarah tentang pulau seram atau yang lebih dikenal dengan Nusa Ina.

Menurut bapak Dominggus Paulus Horhorouw yang lahir pada 18 Desember 1913 di Desa Hutumuri yang bertindak sebagai pimpinan Orkes Suling desa pada sekitar tahun 1962, ia dipanggil untuk menghadap gubernur Maluku di kediaman beliau di kota Ambon. Setibanya di sana ia bercerita tentang Sejarah Musik Tiup.

Di Pulau Seram, dahulu ada sebuah kerajaan Werinama, kerajaan tersebut sangat kuat sehingga tidak dapat dikalahkan. Kerajaan atau raja kerajaan itu memiliki seorang gadis yang amat sangat cantik dan menjadi bahan perhatian banyak orang untuk mempersunting gadis tersebut. Untuk menaklukan raja dan kerajaan itu, diminta 3 desa bersaudara, yaitu:

    • Desa Hutumuri yang terletak di Pulau Ambon
    • Desa Sirisori yang terletak di Pulau Saparua
    • Desa Tamilou yang terletak di Pulau Seram

Desa-desa bersaudara tesebut tadi yang terletak pada desa-desa yang berbeda itu bersepakat untuk datang menuju Werinama, ketiga desa tersebut datang dengan menumpang sebuah kora-kora dengan identitas nomor 16. Pada saat mereka sampai di Werinama, mereka kemudian meniup kulit bia sebanyak 9 kali. Mendengar bunyi bia itu, Werinama segera menyerah tanpa syarat.

Benar atau tidaknya sejarah tersebut atau hanya merupakan sebuah legenda, tetapi kulit bia ini memiliki suatu fungsi bunyi atau suara yang cukup meyakinkan, sebab diantara ketiga desa besaudara tersebut terdapat di desa bapak Horhoruw yaitu desa Hutumuri. Wakil gubernur mengharapkan agar bapak Horhoruw dapat menciptakan suatu alat musik dari kulit bia.

Pada 15 mei 1963 alat atau orkes kulit bia ini akan turun memeriahkan perayaan Hari Pahlawan Pattimura di Ibu Kota Negara Jakarta. Tugas untuk menggali kulit bia menjadi alat orkes kulit bia ditugaskan kepada Alm. Bapak Karel Hehanusa.

Bapak Karel Hehanusa merupakan seorang musisi Maluku yang cukup terkenal saat itu. Bpk. Karel Hehanusa sangat terkenal dengan “Orkes Ramai Dendangnya”, baik itu hawaian maupun biola. Setelah bpk. Karel Hehanusa selesai menggali atau menciptakan kulit bia, maka desa-desa yang dipilih untuk mendukung orkes tersebut antara lain:

    • Desa Hutumuri
    • Desa Rutong
    • Desa Kilang
    • Desa Naku
    • Desa Ahamusu

Kelima desa ini terletak di Pulau Ambon dan bapak Harharuw ditunjuk sebagai pemimpin orkes tersebut. Dengan demikian musik atau orkes ini muncul pertama kali di Indonesia pada perayaan hari Pahlawan Pattimura pada 15 mei 1963 di Ibu Kota Negara Jakarta, bukan di Ambon. Kemudian orkes kulit bia ini ditumbuh kembangkan di desa Sirisori Amalatu yang terletak di pulau Saparua oleh alm. Matheos Atihuta. Dari sejarah dan kisah itulah musik FU terus dikembangkan terutama di desa-desa awalnya seperti Sirisori yang sampai sekarang masih ada musik ini.

 

Fungsi Alat Musik FU

Jika dilihat pada awal munculnya alat musik ini, maka memiliki fungsi yaitu untuk dimainkan, juga karena suaranya yang khas dari alat musik ini. Jika dilihat keistimewaannya, yang lebih menonjol adalah bahan dasar pembuatan alat musik ini sendiri yang benar-benar dari hasil alam. Alat musik ini diciptakan memiliki fungsi dan tujuan sangat penting di berbagai masa.

Adapun alat musik FU berfungsi sebagai berikut:

  • Alat komunikasi antara Raja dan Masyarakat.
  • Alat komunikasi antara Raja dan Pegawai-pegawai Negeri.
  • Memberitahukan suatu keadaan.
  • Memberitahukan suatu pengumuman.

Dengan fungsinya tersebut sehingga komunikasi antara masyarakat desa terjalin dengan baik. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam pengumuman yang diberitakan oleh pesuruh desa atau disebut Marinyo, Marinyo yang merupakan salah satu staf negeri yang berperan sebagai pesuruh, dalam memberitahukan hal-hal penting, Marinyo akan terlebih dahulu meniup FU.

FU tahuri mempunyai fungsi sebagai alat yang dapat memberitahukan suatu keadaan seperti perang, titah Raja dan sebagainya. Hampir seluruh tata cara adat pada saat dahulu yang menggunakan tahuri sebagai pembuka atau penutup, hingga sekarang pun hal ini masih tetap dikembangkan, dimana masih terlihat beberapa tata cara adat yang masih menggunakan tahuri sebagai pembuka maupun penutup suatu acara adat. Salah satu fungsi alat musik ini yang paling menonjol dan juga sedang dikembangkan sekarang yaitu sebagai salah satu alat musik tradisional masyarakat Maluku.

 

Sampai sini sudahkah kalian memahami tentang alat musik FU? Demikianlah penjelasan mengenai alat musik FU beserta pengertian, sejarah, dan fungsinya, semoga bermanfaat.

(alatmusik.net)

Leave a Comment